Mungkin di Bumi, Mungkin juga di masa depan
atau mungkin di masa lalu
Tidak ada yang tahu kenapa seperempat bagian dari bulan di angkasa pecah berantakan, tidak ada yang tahu juga tentang puing-puing batu batuan kotak dengan ratusan lubang yang tersebar diseluruh dunia, tidak ada yang tahu tentang baja-baja kotak yang tersebar disuatu batuan datar yang sangat lebar, tersebar didalam lautan, dan tersebar begitu saja, tidak ada yang tahu mengapa semua itu terjadi, dan tidak ada yang tahu kenapa ada tulang-belulang manusia terperangkap di antaranya.
Tidak ada yang ingat, tentang bencana besar....
Cerita kita di mulai di suatu desa kecil indah di mana ditemukannya satu atau dua bukti dari peradaban masa lalu. Sebuah desa yang tertutup yang terletak di tengah benua Newart. Dengan latar belakang kehancuran yang telah terjadi secara menyeluruh di bumi, sampai-sampai tidak ada yang ingat pernah terjadi suatu bencana besar di muka bumi ini.
Adalah Windsong, suatu bangsa yang terkenal akan kedisiplinannya, dimana kata adalah perbuatan. Mereka bertempat tinggal jauh keujung selatan yang dingin. Tidak ada manusia hidup yang pernah tiba di kerajaan Windsong dan kembali lagi. Bangsa yang ingin menyibak kebenaran dari semua pertanyaan akan asal usul manusia di planet ini, dan kenapa terdapat banyak sekali buku-buku yang tidak dapat dibaca.
Hilangnya suatu peradaban...
Adalah Hanguk, bangsa yang terkenal akan kecanggihan teknologinya, dimana energi adalah hal yang selalu mereka khawatirkan. Mereka bertempat tinggal jauh ke Timur Laut. Dan alat transportasi mereka adalah kapal-kapal terbang. Bangsa yang haus akan ilmu ini berusaha menambang terrarium sebanyak mungkin untuk keperluan penelitian yang besar.
Mungkin itulah penyebab Hilangnya suatu peradaban...
Adalah Uropia, bangsa yang terkenal akan minuman nya, kebudayaannya, dan seni, dimana kehidupan adalah segalanya. Mereka tersebar diseluruh daratan Newart. Bangsa yang pintar dan ramah ini tidak perduli tentang adanya bencana besar dimasa lalu atau tidak, yang berarti sekarang adalah, hidup yang sekarang.
Itu adalah hal yang diajarkan Wodan
Adalah Nur, bangsa yang terkenal dengan sihirnya, dimana kejahatan sering sekali terjadi. Mereka bertempat tinggal jauh di ujung tenggara. Bangsa yang lalim ini tidak terlalu perduli akan apa yang terjadi di dunia luar. Tidak jika tidak ada uang.
Bangsa yang paling ingin dihancurkan oleh bangsa Hanguk
lemniscate ouroboros
a novel by Killy Thirsk
Friday, January 4, 2013
Wednesday, January 2, 2013
Chapter#1 : Stranger and the ancient stone
2144 Aeon Bulan Nergal akhir tahun Amalthea
Danau Terra, Uropia
--
--
Bangunan itu cukup besar, terbuat dari batang-batang pohon utuh yang diberdirikan untuk menjadi tiang-tiang utama bangunan. Dengan atap yang terbuat dari jerami, memanjang dari samping ke samping, dengan tangga utama terletak ditengah. Dan diujung kedua atap terdapat dua buah ornamen gagak, saling membelakangi, merupakan sebuah tanda, karena dua burung gagak adalah peliharaannya Dewa Wodan. Dan disinilah sang kepala desa memerintah desanya, mengatur kebijakan, mengadili orang, dan membicarakan tentang hiburan rakyat yang sebentar lagi akan di adakan di akhir tahun, di desa kecil ini.
Saat itu hujan sudah mulai reda, kabut diatas danau secara aneh menghilang. Sudah hampir tengah malam saat Albert dan Bernald memutuskan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di kedai kepada sang kepala desa. Dalam pikiran Bernald dan Albert tidak ada satupun manusia yang dapat mendekati batu bola bundar tersebut. dan jika sang dara Windsong mendekatinya dikhawatirkan dia juga akan menjadi korban, dan menyulut api peperangan antara kerajaan Uropia dengan bangsa Windsong. Bangsa Windsong itu sendiri dikenal tidak pernah kalah dari perang.
Tidak banyak yang dapat diketahui dari bangsa Windsong, karena tiada yang pernah berkunjung kekerajaan mereka yang terletak jauh di selatan. Biasanya bangsa Windsong berperjalanan dengan dua orang Windsong lainnya tidak pernah lebih dari itu. Dan tidak ada yang pernah melihat Windsong laki-laki
Tujuan bangsa Windsong itu cuman satu, bukan perebutan kekuasaan, bukan harta, melainkan artifak-artifak kuno yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Mereka berkelana mencari berbagai macam artifak, dan membawanya pulang ke negeri asal mereka. Tidak ada yang tahu kenapa bertindak demikian.
Ada dua jenis Windsong yang pernah Bernald dan Albert dengar dari mulut kemulut, satu ialah Windsong yang selalu menutup matanya dengan kain hitam dipersenjatai dengan sarung tangan baja berwarna hitam pula. dan satu jenis Windsong lainnya adalah Windsong yang memegang pedang panjang hitam yang tidak pernah dibuka dari sarungnya. Dua - dua nya merupakan petarung tangguh. Tidak ada satu cerita tentang kekalahan Windsong dalam pertarungan satu lawan satu.
Selain itu bangsa Windsong juga memiliki kemampuan khusus, konon katanya bangsa Windsong dapat berkomunikasi dengan angin dan air, itulah alasan kenapa Bangsa Windsong tidak pernah basah kuyup kehujanan, seberapa lebat pun hujannya.
Akan tetapi sangat jauh berbeda dengan Windsong yang Bernald dan Albert lihat didalam kedai, dia tidak mengenakan penutup mata dan tidak juga membawa pedang panjang hitam. Sesungguhnya siapakah gerangan dirinya ?
"Jadi seperti itu kejadiannya..." Lamunan Bernald buyar oleh perkataan sang kepala desa menjawab dari penjelasan Albert yang masih belum bisa menghilangkan rasa paniknya
"Dia benar seorang Windsong, ada banyak Windsong yang belum kamu lihat, Albert...", "dan tujuannya kesini sudah jelas, untuk mengambil batu bola bundar itu..."
"hmm..." lanjut sang kepala desa yang tengah duduk di lantai kayu beralaskan tikar dari jerami, rambutnya yang kusut menandakan beliau baru saja bangun dari tidur. Lalu beliau menoleh kebelakang
"Eugene...aku ingin ada orang yang menjaga pintu masuk tambang selama satu hari satu malam penuh dan jika Windsong itu datang, kita hanya akan memberitahu bahaya yang akan dia hadapi didalam tambang tersebut"
Eugene, sang tangan kanan kepala desa hanya mengangguk dan mengambil langkah mundur
"lalu jika Windsong itu berhasil mengambil batu bola bundar tersebut bagaimana dirinya akan membawa pulang benda tersebut? benda tersebut ukurannya hampir sebesar rumah" Bernald berpikir dalam hati
"Kita perlu mengingatkan dia akan bahaya yang akan dihadapinya.. Bangsa Windsong sebenarnya Bangsa yang cinta damai, mereka tidak pernah mengganggu jika tidak diganggu..", "Akan tetapi jangan kau menempatkan dirimu diantara Windsong dengan apa yang diinginkannya" ucap sang kepala desa berusaha menenangkan Albert
"Kita tidak tahu apa kegunaan Batu kristal bundar itu, yang ada hanya batu itu membawa masalah pada nilai tambang kita, aku sangat setuju bila batu itu dibawa pergi dari sini" Berkata Albert
"Itu memang benar, akan tetapi bangsa Hanguk lah yang rela membuka tambang itu disini, tambang itu sebenarnya bukan milik kita, akan tetapi karena tambang itu berada di kerajaan kita, maka secara wilayah itu milik kita"
"ya benar, bangsa Hanguk bahkan mengirim peralatan tambang baru setiap bulannya secara cuma-cuma"
"Ada baiknya kita beritahu Windsong itu bahwa tambang ini milik bangsa Hanguk"
"mau itu milik bangsa Nur sekalipun, jika Windsong sudah menginginkannya pasti akan mereka dapatkan"
"Kita tidak mungkin mengirim kurir ke kerajaan Hanguk, itu sama saja mengelilingi setengah bumi"
tampak beberapa Tokoh masyarakat yang sedari tadi berdiri disamping sang kepala desa mulai buka mulut memulai jajak pendapat
"sudah saya duga kejadian seperti ini akhirnya datang juga, tidak kusangka akan terjadi pada diriku" gumam sang kepala desa "dulu sekali sewaktu tambang ini di bangun oleh bangsa Hanguk, salah seorang pimpinan mereka menitipkan suatu alat kepadaku", "ia berkata bahwa jika kelak terdapat situasi yang seperti ini, alat itu dapat digunakan"
Beliau lalu berdiri dari tempat duduknya, berjalan lebih dalam kedalam ruangan pribadinya, tidak ada yang mengikuti, terdengar beberapa kali bunyi baja kecil bertemu baja kecil seperti bunyi gembok yang dibuka. Lalu beliau keluar dari ruangan sembari membawa sebuah benda yang dibungkus oleh secarik kain yang usang.
Beliau pun kembali duduk ditempatnya, perlahan beliau membuka kain yang menutupi beda tersebut, tampaklah satu benda kecil yang entah terbuat dari kristal entah terbuat dari kaca, berbentuk dua piramida yang disatukan pada kedua bidang yang rata, Semua keheranan, dan mulai mengambil jarak dekat untuk melihat lebih jelas benda tersebut.
Beliau genggam kristal itu dengan tangannya dan mengangkatnya keatas agar semua orang bisa melihatnya. Beliau lalu menyentuh satu bidang dari kristal tersebut yang bercahaya bundar berwarna emas.
"PIP!"
semua orang termasuk sang kepala desa kaget!, bunyi seperti itu muncul dari dalam kristal, lalu kristal melayang diatas telapak tangan sang kepala desa, melayang makin tinggi sampai tidak tergapai oleh sang kepala desa. Semua mata melihat keatas, dengan keheranan.
Lalu Kristal itu bersinar terang berputar pelan, terus berputar, lama kelamaan sinar dalam kristal makin redup dan akhirnya mati. bersamaan dengan berhentinya putaran sinyal dan kristal tersebut pun jatuh kelantai kayu
Pecah berantakan.
Semua mata terbelalak, panik, terkejut dan keheranan. Semua orang diruangan itu diam tak bersuara menunggu apa yang akan terjadi pada kristal yang pecah tersebut.
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti uap air yang mendidih keluar dengan cepat pada sela panci yang sempit, dan dari setiap pecahan kristal tersebut menyerap materi yang ada disekelilingnya, melalui bentuk angin topan yang kecil-kecil, perlahan-lahan kristal kecil itu melayang keudara, saling mendekati satu sama lain, sambil tetap menyerap materi yang ada disekitarnya.
Albert terkejut saat melihat lantai tempat jatuhnya kristal sudah tidak ada lagi, menyisakan geroak besar menuju tanah. Lalu kristal itu secara ajaib membentuk tangan manusia, kaki manusia dan badan manusia setengah jadi dan terakhir terbentuklah kepala manusia, kristal itu memadatkan materi disekelilingnya dan membentuk sebuah bentuk manusia aneh setengah jadi tanpa kulit, kristal itu terus menyerap materi untuk menyempurnakan bentuk manusia yang tengah ia bentuk.
Semua makin tercengang, bahkan penyihir terhebat dikerajaan Nur tidak bisa membentuk tubuh manusia, akan tetapi benda ini dapat membentuk manusia sedemikian rincinya.
Bunyi uap air itu pun usai, seiring sempurnanya pembentukan manusia lengkap dengan pakaian perang bangsa Hanguk, pedang pendek yang lengkung dan busur panah yang terletak dipunggungnya. lalu sosok itu berkata
"Aku adalah Badan maya perwakilan sementara dari bangsa Hanguk atas urusan tambang terrarium yang berada di Danau Terra, kerajaan Uropia, katakan apa yang sedang terjadi?"
--
Baru kali ini sang kepala desa menyaksikan hal yang begitu jauh di luar akal sehat, sepanjang pemahamannya terhadap kerajaan Hanguk dan pengalamannya di Benua Newart, baru kali ini beliau melihat sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Manusia yang tercipta dari pecahan kristal.
"Engkau dari Hanguk ? Secepat ini tiba di Terra... tidak mungkin...." Ucap salah seorang tokoh masyarakat
Lalu sosok itu menoleh ke sumber suara dengan pelan, lalu berkata
"Ya, mari.. untuk menyingkat waktu, apa hal penting yang telah terjadi sehingga diriku diciptakan"
"kepada siapa engkau melaporkan tugasmu ?" sang kepala desa bertanya
Sosok itu menoleh lagi ke sang kepala desa dan menjawab dengan pelan
"Aku menyampaikan apa yang aku lihat dan dengar kepada kepala badan pertambangan Danau Terra, Tuan Dangu"
Terlintas segaris rasa lega terbersit dalam air muka sang kepala desa, sambil tertawa kecil beliau pun menjelaskan kepada semua orang disana bahwa Tuan Dangu adalah benar kepala badan pertambangan di Danau Terra di kerajaan Hanguk di timur jauh sana. Beliau juga berkata kepada semua Europians yang ada diruangan itu bahwa memang Tuan Dangu sewaktu meninggalkan kristal tersebut berkata sesuatu yang seperti itu, hanya saja sang kepala desa mengira waktu itu bahwa itu hanya bercanda.
Sang Kepala desa juga menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Kedai Bernald, tentang penampakan seorang Windsong, juga terhadap keputusan kepala desa untuk tidak ikut campur akan hal-hal antara kedua kerajaan Hanguk dan Windsong mengenai benda yang baru-baru ini ditemukan oleh para penambang.
Makhluk yang menyerupai ksatria bangsa Hanguk itu pun mengerti dan berkata bahwa beberapa menit lagi, pihak dari kerajaan Hanguk akan tiba disini menggunakan kapal terbang. Dia juga berjanji bahwa tidak akan ada korban jiwa dari Uropia jika seandainya terjadi tumpah darah, tapi dia tidak berjanji akan melepas benda itu sebelum peneliti-peneliti dari Hanguk melihatnya langsung.
Dan dengan rasa penasaran yang tidak tertahankan lagi, Albert yang sedari tadi diam saja, bertanya kepada sang makhluk : "sebenarnya, kau ini apa ? dan kenapa tubuhmu bisa terbentuk oleh kristal itu dan beberapa papan kayu" sambil menunjuk lantai kayu yang hilang di ruangan
Makhluk itu lalu menoleh pelan ke arah Albert, lalu melirik ke arah lantai bangunan milik kepala desa yang tinggal geroak saja. Lalu makhluk itu berkata : "Aku adalah apa yang kalian sebut sebagai boneka, Bangsa kami, Hanguk punya kemampuan untuk mengendalikan unsur-unsur kecil dari suatu benda, merubahnya dan dengan energi yang cukup menciptakan makhluk hidup"
"Akan tetapi" makhluk itu melanjutkan "tidak ada energi yang tidak terbatas, oleh karena itu aku mengucapkan selamat tinggal wahai kepala desa, selamat tinggal juga wahai Europians, tubuh ini sebentar lagi akan hancur"
Usai berkata seperti itu makhluk itu memejamkan matanya, dan dalam keadaan masih berdiri, ia tidak kunjung membuka matanya. Albert yang sedari tadi masih penasaran berusaha menyentuh makhluk itu. Namun apa yang terjadi, Albert hanya menyentuh pasir yang membentuk tubuh makhluk itu, lalu seluruh tubuh makhluk tersebut rubuh kebawah, jatuh semuanya, menyisakan onggokan pasir.
"Hanya...Pasir...." Albert bergumam....
--
Tidak sampai setengah perjalanan pasir pada jam pasir, terdengar suara gemuruh beserta suara desingan hebat dari arah luar. Bernald, Albert dan semua Europians yang ada diruangan bergegas keluar dari bangunan kayu tersebut. Sudah mereka duga sebelumnya, : Kapal Udara Bangsa Hanguk telah tiba!!
Danau Terra, Uropia
Hujan deras menguyur satu desa kecil disisi danau, tapi cahaya dari bulan yang telah hancur berserakan seperti batu besar pecah bersinar terang di ufuk barat, terpantul jelas diatas air danau yang tenang, cahaya bulan yang lembut berhasil melukis pelangi yang jatuh entah dimana ujungnya, sebuah pelangi yang berasal dari bulan di malam hari, Indah dan jarang. tapi keindahan itu sama sekali dihiraukan oleh seorang pemilik kedai didesa itu.
Mukanya yang masam dan kerut-kerut disisi pipinya dan dengan pandangan yang bengis dia membuka pintu kedai.
Tampak beberapa orang pengunjung kedai yang semuanya laki-laki Europians duduk tanpa berbicara, menikmati minuman dibawah cahaya lentera temaram, sebagian hanya duduk sambil menikmati tembakau yang dibakar didalam pipa kayu panjang dan sisanya hanya memangku tangan diatas meja kayu bundar kasar yang terbuat dari papan, tiada diantara mereka yang basah pakaiannya.
Sang pemilik kedai pun berjalan tanpa rama, pandangannya lurus kedepan, hanya hujan yang turun seperti biasanya, hari yang berjalan seperti biasa. Tidak ada hal yang aneh, meski 2 bulan kebelakang terjadi sebuah peristiwa besar didesa itu.
Derit-derit papan beradu papan seiring langkah sang pemilik kedai, menambah seram suasana.
Dan sesekali cahaya lentera goyah tertiup angin utara dingin dari luar
--
Salah seorang dari pelanggan kedai yang tidak lain adalah warga lokal desa tersebut sedikit terhenyak menyadari kabut mulai turun dari atas gunung menyelimuti lembah. Tapi dia tidak bersuara kembali dia menenggak minumannya. Tak lama setelah itu dia layangkan pandangan kepada jam pasir yang terpampang didinding dekat meja utama dimana sang pemilik kedai melayani pengunjung. Tanpa tergesa-gesa ia dorong kursi kayunya kebelakang, lalu dia pun berjalan kearah meja utama.
Tanpa suara sang pengunjung pun duduk didepan meja utama, dia melirik dalam-dalam ke mata sang pemiliki kedai yang tengah membersihkan gelas.
Sang pemilik kedai pun membalas tatapan pelanggannya itu seakan memberi isyarat, Sang pemilki kedai pun paham, mengangguk pelan seiring perginya sang pelanggan, meninggalkan satu keping tembaga diatas meja.
Sang pelanggan pun berjalan ke arah pintu keluar. Lalu sang pelanggan membuka pintu kedai, bersamaan dengan munculnya petir dari luar, namun yang membuat terkejut si pelanggan bukanlah gelegar petir, tapi didepannya berdiri satu sosok hitam membelakangi cahaya petir yang entah itu laki-laki, entah itu perempuan. Dua kali petir menyambar. Pintu itu pun semakin lama terbuka. Tergerai jubah si pelanggan tertiup angin kencang.
Menyadari hal itu Sosok tersebut segera masuk kedalam kedai, dimana tak satupun orang melihat bagaimana caranya dia melewati sosok tinggi besar si pelanggan yang hampir menghalangi pintu masuk. Sambil tercengang melihat kearah belakang dimana sosok itu telah berdiri, si pelanggan pun keluar dan menutup pintu dengan sopan, tanpa keluar sepatah kata pun.
--
Setelah pintu tertutup dan cahaya lentera mulai stabil terlihat jelas sosok tersebut. Sosok tersebut mengenakan jubah hitam yang terpisah dengan pelindung kepala dari air hujan. Jubah itu cukup panjang dan di kenakan erat-erat untuk menyembunyikan ukuran tubuh si sosok.
Satu persatu dari pelanggan kedai itu melirik ke arah si sosok yang hanya diam saja, dalam hati mereka bertanya bagaimana mungkin diluar hujan deras akan tetapi tidak ada satupun tetes air di atas pelindung kepala si sosok.
Lain halnya dengan sang pemilik kedai, Ia hanya menatap dalam-dalam sosok yang melangkah kearahnya, dan seusai ia selesai membersihkan gelas dari sisa air cucian, sosok itu telah duduk tepat didepan sang pemilk kedai.
"tolong sediakan air panas" Ucap si sosok dengan merdu
dari suaranya, sudah bisa diduga bahwa si sosok adalah seorang perempuan. Semua mata mendengar, semua telinga melihat.
Dan dengan tanpa bicara sang pemilik kedai menyodorkan segelas besar air panas sesuai apa yang diminta oleh si sosok.
--
Air panas itu hanya ia diamkan saja, kepulan uap-uap air itu melayang keatas dengan bebasnya, menghalangi pandangan sang pemilik kedai yang diam-diam penasaran akan si sosok. Dan seiring perginya sang pemilik untuk melayani orang lain, barulah tangan si sosok keluar dari jubah untuk mengambil air panas tersebut. Ia lepas sarung tangan yang terbuat dari jerami itu satu persatu, lalu ia letakkan dengan rapi disamping segelas air panas. Tangannya yang mungil pun memegang gelas tanpa mengangkatnya, ia usap-usap saja. Menikmati suhu yang ditawarkan oleh gelas itu.
"Sudah cukup lama, air itu seharusnya menjadi dingin, Nona.." Ucap Sang Pemilik kedai yang menghampiri si sosok disertai dengan terhenyaknya muka wajah semua orang di dalam kedai.
"Tak kusangka, akhirnya Bernald berbicara juga..." bisik seseorang disudut kedai kepada teman duduknya
Lalu si sosok itu tersenyum kecil, dan hanya sang pemilik kedai saja yang bisa melihatnya.
Sang pemilik kedai sendiri terkejut dalam hati bukan alang-kepalang, dia yang selama dua bulan ini bersumpah untuk tidak berbicara sama sekali kebingungan kenapa kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya sendiri.
"Tidak, ini sudah lebih dari cukup" ucap sang dara.
lalu tangan nya meraih saku di pinggang nya, memberikan 1 keping emas kepada sang pemilik kedai. Melipatnya dalam genggaman sang pemilik kedai, agar tidak ada satupun yang tahu berapa bahwa itu adalah keping emas.
Lalu sang dara mengambil langkah keluar kedai, meski hujan turun semakin lebat, dan kabut semakin tebal, lambat laun bayangannya menghilang kearah hutan menjauhi desa tersebut ke arah selatan.
--
"Hey Bernald!" ucap salah seorang pelanggannya yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri yang sedari tadi duduk tidak jauh disamping sang dara.
"Itu adalah pengunjung asing ke dua belas yang mengunjungi kedai ini, Kenapa kau buka mulut walaupun hanya sapaan ?"
"Entahlah, aku tidak tahu, aku telah berbuat tanpa sadar"
Lalu seorang lelaki disudut kedai berbisik lagi kepada temannya
"Kalian dengar itu, dia adalah seorang Windsong, celakalah kita jika ada seorang Windsong datang kemari"
Tentu saja dengan luas kedai yang tidak besar, semua orang bisa mendengar bisikan itu
"Apa?! Windsong!! dari mana kau bisa menyimpulkan demikian, kau sendiri tidak pernah bertemu dengan seorang Windsong ya kan??" Bisik teman duduknya agak keras, disusul oleh beberapa bisik-bisikan di meja lain. Seketika itu juga seisi kedai dipenuhi oleh suara bisik-bisik.
Geram sang sahabat dia hantam meja utama kedai sambil berteriak : "Kalian jangan dulu menyimpulkan bahwa dia adalah seorang Windsong kita tidak tahu dia adalah seorang Windsong atau bukan!!"
Seisi kedai terdiam, lalu lelaki dari sudut mengangkat bicara : "tidakkah kalian menyadari, seorang Windsong tidak akan terkena hujan, seperti kering dalam perahu Bangsa Urza?", "itu adalah salah satu ciri-ciri mereka", "ya benar, saya juga pernah mendengar hal yang sama" Ucap seorang lagi dari ujung kedai yang lain.
Tampak Bernald mengusap-usap dagunya sambil berpikir
"Seorang Windsong..."
Ucapan pelan Bernald berhasil mengambil seluruh perhatian pelanggan kedai, yang langsung melirik kearahnya
"Tapi aku tidak pernah dengar seorang Windsong, bisa mengendalikan pikiran.." Ucap Bernald lagi
Sambil mengambil tangan Bernald yang tengah menggenggam keping emas, Sahabatnya berkata : "lalu apa yang Windsong itu berikan kepadamu, Bernald ?"
Pelan-pelan Bernald membuka genggamannya.
"Satu Keping Emas Romania...." Ucap beberapa orang yang melihat berbarengan
"Dengan uang itu kamu bisa membangun rumah..." Ucap seorang lagi
"Dan pesta sepanjang hari" balas seorang lagi
"Tapi apa maksudnya Windsong memberikan uang sedemikian besarnya hanya untuk segelas air panas?" Usai Sahabatnya berkata begitu Bernald pun terkejut, isi gelas air panas itu telah kosong, namun ia tidak pernah melihat sang dara meminumnya.
"Dia benar-benar seorang Windsong, lihat" ucap Bernald sambil mengangkat gelas itu terbalik ke atas, agar semua orang melihat.
"Albert, kita harus memberi tahu kepala desa, sesegera mungkin" sambung Bernald kepada sahabatnya.
Sahabat karibnya itu pun mengangguk, tanpa bisa menahan wajah paniknya yang bercucuran keringat.
Segera keduanya bergegas mengambil jubah mereka masing-masing dan keluar lewat pintu belakang dimana kedua ekor kuda sudah menunggu didalam istal sederhana. Bahkan hujan tidak menghentikan laju langkah mereka yang tergesa.
--
Nama desa itu adalah Terra, diambil dari nama danau didesa tersebut, danau yang begitu luas, sehingga orang harus menyalakan api unggun besar untuk memberikan sinyal tanda bahaya keujung danau lainnya. Suara tidak dapat menembus danau tersebut. Di musim gugur danau Terra akan berubah warna menjadi warna jingga, penduduk sekitar berpendapat bahwa itu adalah tanda dari Dewa bahwa tahun depan akan panen ikan besar-besaran.
Penduduk sekitar menyembah Wodan, Dewa Puisi, meskipun tidak ada titik temu dengan mata pencaharian mereka. Mata pencaharian utama penduduknya yaitu menambang Terrarium, sebutan untuk kristal bening biru menyala-nyala dan mata pencaharian lainnya adalah menangkap ikan didanau Terra, dan jarang sekali penduduk desa ini berdagang keluar desa karena semua kebutuhan mereka sudah cukup terpenuhi.
Masyarakat Terra terkenal akan ketertutupannya dengan dunia lain sejak pertama kali bertempat tinggal di danau Terra. Tiada yang tahu sebabnya kecuali kepada desa itu sendiri.
--
Sebuah batu besar seakan menancap ditengah danau, dari jauh dapat terlihat dua titik api kecil menandakan pintu masuk ke dalam tambang Terrarium terbesar diseluruh Newart, sebuah ucapan bangsa timur terhadap benua besar yang ada di barat laut. Tidak banyak bangsa yang menggunakan terrarium, dikarenakan fungsinya hanyalah menyimpan energi untuk menerangi ruangan dan menghidupkan beberapa mesin. Akan tetapi dikarenakan menambang terrarium itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, harga terrarium pun mahal.
Albert adalah salah satu dari sekian penambang di desa Terra. Sudah 20 tahun Albert menambang terrarium di tambang ditengah danau. Seringkali dulu sahabatnya Bernald bertanya akan kenapa Albert tidak menjadi Pemancing ikan saja. Albert dengan sederhana sembari tertawa menjawab bahwa dirinya suka berada didalam tambang terrarium, dikarenakan keindahan dan keluasan dari tambang tersebut.
Lain halnya dengan malam ini, muka Albert dipenuhi oleh rasa gelisah yang teramat sangat, begitu pula dengan Bernald mukanya seakan habis melihat hantu. Mengingat-ingat kejadian 2 bulan kebelakang di tambang Terrarium ditemukannya satu batu bola bundar berwarna putih bening, akan tetapi orang-orang tidak bisa melihat sampai kedalam. Bundaran bola kristal itu ditemukan di suatu cabang gua pada kedalaman dimana salamander buta tidak hidup lagi, terperangkap diantara tumpukan terrarium mentah dan para penambang hanya bisa bertahan di dalam gua itu satu kali putaran jam pasir saja, Jika terlalu lama berdiam diri di gua tersebut, orang bisa mati tertidur. Adik laki-laki Bernald adalah salah satu korbannya.
"Apakah Windsong itu mengincar Batu misterius itu, Bernald?" , "Tidakkah itu yang engkau pikirkan barusan?" sebut Albert dalam sela nafas kudanya
"ya, tidak mengherankan memang, semenjak kabar tentang batu itu keluar dari desa ini, banyak orang datang kemari", "dan jika kita tidak menghentikan Windsong itu, dia bisa jadi korban berikutnya" seru Bernald sambil matanya tidak beralih dari jalan yang ia tempuh.
"Sebenarnya apa fungsi dari batu itu, dan kenapa manusia tidak ada yang bisa bertahan di dalam gua tersebut ?" Bernald berkata lagi diselingi beberapa gelegar halilintar
"entahlah aku juga tidak tahu saudaraku, tapi yang kutahu bahkan kepala desa sendiri sampai mengirim kabar ke Ibukota tentang perihal ini", "dan ku dengar sang Raja mengutus beberapa orang kepercayaannya membawa kabar tentang ini ke kerajaan nan jauh ditimur" Jawab Albert sambil terus memacu kudanya
"entahlah aku juga tidak tahu saudaraku, tapi yang kutahu bahkan kepala desa sendiri sampai mengirim kabar ke Ibukota tentang perihal ini", "dan ku dengar sang Raja mengutus beberapa orang kepercayaannya membawa kabar tentang ini ke kerajaan nan jauh ditimur" Jawab Albert sambil terus memacu kudanya
"Maksudmu ke kerajaan Hanguk ?"
"ya bersama dengan pengiriman terrarium terbaru"
"sudah sepantasnya" ucap Bernald mengakhiri pembicaraan dikarenakan mereka sudah sampai di tujuan
"ya bersama dengan pengiriman terrarium terbaru"
"sudah sepantasnya" ucap Bernald mengakhiri pembicaraan dikarenakan mereka sudah sampai di tujuan
--
Bangunan itu cukup besar, terbuat dari batang-batang pohon utuh yang diberdirikan untuk menjadi tiang-tiang utama bangunan. Dengan atap yang terbuat dari jerami, memanjang dari samping ke samping, dengan tangga utama terletak ditengah. Dan diujung kedua atap terdapat dua buah ornamen gagak, saling membelakangi, merupakan sebuah tanda, karena dua burung gagak adalah peliharaannya Dewa Wodan. Dan disinilah sang kepala desa memerintah desanya, mengatur kebijakan, mengadili orang, dan membicarakan tentang hiburan rakyat yang sebentar lagi akan di adakan di akhir tahun, di desa kecil ini.
Saat itu hujan sudah mulai reda, kabut diatas danau secara aneh menghilang. Sudah hampir tengah malam saat Albert dan Bernald memutuskan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di kedai kepada sang kepala desa. Dalam pikiran Bernald dan Albert tidak ada satupun manusia yang dapat mendekati batu bola bundar tersebut. dan jika sang dara Windsong mendekatinya dikhawatirkan dia juga akan menjadi korban, dan menyulut api peperangan antara kerajaan Uropia dengan bangsa Windsong. Bangsa Windsong itu sendiri dikenal tidak pernah kalah dari perang.
Tidak banyak yang dapat diketahui dari bangsa Windsong, karena tiada yang pernah berkunjung kekerajaan mereka yang terletak jauh di selatan. Biasanya bangsa Windsong berperjalanan dengan dua orang Windsong lainnya tidak pernah lebih dari itu. Dan tidak ada yang pernah melihat Windsong laki-laki
Tujuan bangsa Windsong itu cuman satu, bukan perebutan kekuasaan, bukan harta, melainkan artifak-artifak kuno yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Mereka berkelana mencari berbagai macam artifak, dan membawanya pulang ke negeri asal mereka. Tidak ada yang tahu kenapa bertindak demikian.
Ada dua jenis Windsong yang pernah Bernald dan Albert dengar dari mulut kemulut, satu ialah Windsong yang selalu menutup matanya dengan kain hitam dipersenjatai dengan sarung tangan baja berwarna hitam pula. dan satu jenis Windsong lainnya adalah Windsong yang memegang pedang panjang hitam yang tidak pernah dibuka dari sarungnya. Dua - dua nya merupakan petarung tangguh. Tidak ada satu cerita tentang kekalahan Windsong dalam pertarungan satu lawan satu.
Selain itu bangsa Windsong juga memiliki kemampuan khusus, konon katanya bangsa Windsong dapat berkomunikasi dengan angin dan air, itulah alasan kenapa Bangsa Windsong tidak pernah basah kuyup kehujanan, seberapa lebat pun hujannya.
Akan tetapi sangat jauh berbeda dengan Windsong yang Bernald dan Albert lihat didalam kedai, dia tidak mengenakan penutup mata dan tidak juga membawa pedang panjang hitam. Sesungguhnya siapakah gerangan dirinya ?
"Jadi seperti itu kejadiannya..." Lamunan Bernald buyar oleh perkataan sang kepala desa menjawab dari penjelasan Albert yang masih belum bisa menghilangkan rasa paniknya
"Dia benar seorang Windsong, ada banyak Windsong yang belum kamu lihat, Albert...", "dan tujuannya kesini sudah jelas, untuk mengambil batu bola bundar itu..."
"hmm..." lanjut sang kepala desa yang tengah duduk di lantai kayu beralaskan tikar dari jerami, rambutnya yang kusut menandakan beliau baru saja bangun dari tidur. Lalu beliau menoleh kebelakang
"Eugene...aku ingin ada orang yang menjaga pintu masuk tambang selama satu hari satu malam penuh dan jika Windsong itu datang, kita hanya akan memberitahu bahaya yang akan dia hadapi didalam tambang tersebut"
Eugene, sang tangan kanan kepala desa hanya mengangguk dan mengambil langkah mundur
"lalu jika Windsong itu berhasil mengambil batu bola bundar tersebut bagaimana dirinya akan membawa pulang benda tersebut? benda tersebut ukurannya hampir sebesar rumah" Bernald berpikir dalam hati
"Kita perlu mengingatkan dia akan bahaya yang akan dihadapinya.. Bangsa Windsong sebenarnya Bangsa yang cinta damai, mereka tidak pernah mengganggu jika tidak diganggu..", "Akan tetapi jangan kau menempatkan dirimu diantara Windsong dengan apa yang diinginkannya" ucap sang kepala desa berusaha menenangkan Albert
"Kita tidak tahu apa kegunaan Batu kristal bundar itu, yang ada hanya batu itu membawa masalah pada nilai tambang kita, aku sangat setuju bila batu itu dibawa pergi dari sini" Berkata Albert
"Itu memang benar, akan tetapi bangsa Hanguk lah yang rela membuka tambang itu disini, tambang itu sebenarnya bukan milik kita, akan tetapi karena tambang itu berada di kerajaan kita, maka secara wilayah itu milik kita"
"ya benar, bangsa Hanguk bahkan mengirim peralatan tambang baru setiap bulannya secara cuma-cuma"
"Ada baiknya kita beritahu Windsong itu bahwa tambang ini milik bangsa Hanguk"
"mau itu milik bangsa Nur sekalipun, jika Windsong sudah menginginkannya pasti akan mereka dapatkan"
"Kita tidak mungkin mengirim kurir ke kerajaan Hanguk, itu sama saja mengelilingi setengah bumi"
tampak beberapa Tokoh masyarakat yang sedari tadi berdiri disamping sang kepala desa mulai buka mulut memulai jajak pendapat
"sudah saya duga kejadian seperti ini akhirnya datang juga, tidak kusangka akan terjadi pada diriku" gumam sang kepala desa "dulu sekali sewaktu tambang ini di bangun oleh bangsa Hanguk, salah seorang pimpinan mereka menitipkan suatu alat kepadaku", "ia berkata bahwa jika kelak terdapat situasi yang seperti ini, alat itu dapat digunakan"
Beliau lalu berdiri dari tempat duduknya, berjalan lebih dalam kedalam ruangan pribadinya, tidak ada yang mengikuti, terdengar beberapa kali bunyi baja kecil bertemu baja kecil seperti bunyi gembok yang dibuka. Lalu beliau keluar dari ruangan sembari membawa sebuah benda yang dibungkus oleh secarik kain yang usang.
Beliau pun kembali duduk ditempatnya, perlahan beliau membuka kain yang menutupi beda tersebut, tampaklah satu benda kecil yang entah terbuat dari kristal entah terbuat dari kaca, berbentuk dua piramida yang disatukan pada kedua bidang yang rata, Semua keheranan, dan mulai mengambil jarak dekat untuk melihat lebih jelas benda tersebut.
Beliau genggam kristal itu dengan tangannya dan mengangkatnya keatas agar semua orang bisa melihatnya. Beliau lalu menyentuh satu bidang dari kristal tersebut yang bercahaya bundar berwarna emas.
"PIP!"
semua orang termasuk sang kepala desa kaget!, bunyi seperti itu muncul dari dalam kristal, lalu kristal melayang diatas telapak tangan sang kepala desa, melayang makin tinggi sampai tidak tergapai oleh sang kepala desa. Semua mata melihat keatas, dengan keheranan.
Lalu Kristal itu bersinar terang berputar pelan, terus berputar, lama kelamaan sinar dalam kristal makin redup dan akhirnya mati. bersamaan dengan berhentinya putaran sinyal dan kristal tersebut pun jatuh kelantai kayu
Pecah berantakan.
Semua mata terbelalak, panik, terkejut dan keheranan. Semua orang diruangan itu diam tak bersuara menunggu apa yang akan terjadi pada kristal yang pecah tersebut.
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti uap air yang mendidih keluar dengan cepat pada sela panci yang sempit, dan dari setiap pecahan kristal tersebut menyerap materi yang ada disekelilingnya, melalui bentuk angin topan yang kecil-kecil, perlahan-lahan kristal kecil itu melayang keudara, saling mendekati satu sama lain, sambil tetap menyerap materi yang ada disekitarnya.
Albert terkejut saat melihat lantai tempat jatuhnya kristal sudah tidak ada lagi, menyisakan geroak besar menuju tanah. Lalu kristal itu secara ajaib membentuk tangan manusia, kaki manusia dan badan manusia setengah jadi dan terakhir terbentuklah kepala manusia, kristal itu memadatkan materi disekelilingnya dan membentuk sebuah bentuk manusia aneh setengah jadi tanpa kulit, kristal itu terus menyerap materi untuk menyempurnakan bentuk manusia yang tengah ia bentuk.
Semua makin tercengang, bahkan penyihir terhebat dikerajaan Nur tidak bisa membentuk tubuh manusia, akan tetapi benda ini dapat membentuk manusia sedemikian rincinya.
Bunyi uap air itu pun usai, seiring sempurnanya pembentukan manusia lengkap dengan pakaian perang bangsa Hanguk, pedang pendek yang lengkung dan busur panah yang terletak dipunggungnya. lalu sosok itu berkata
"Aku adalah Badan maya perwakilan sementara dari bangsa Hanguk atas urusan tambang terrarium yang berada di Danau Terra, kerajaan Uropia, katakan apa yang sedang terjadi?"
--
Baru kali ini sang kepala desa menyaksikan hal yang begitu jauh di luar akal sehat, sepanjang pemahamannya terhadap kerajaan Hanguk dan pengalamannya di Benua Newart, baru kali ini beliau melihat sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Manusia yang tercipta dari pecahan kristal.
"Engkau dari Hanguk ? Secepat ini tiba di Terra... tidak mungkin...." Ucap salah seorang tokoh masyarakat
Lalu sosok itu menoleh ke sumber suara dengan pelan, lalu berkata
"Ya, mari.. untuk menyingkat waktu, apa hal penting yang telah terjadi sehingga diriku diciptakan"
"kepada siapa engkau melaporkan tugasmu ?" sang kepala desa bertanya
Sosok itu menoleh lagi ke sang kepala desa dan menjawab dengan pelan
"Aku menyampaikan apa yang aku lihat dan dengar kepada kepala badan pertambangan Danau Terra, Tuan Dangu"
Terlintas segaris rasa lega terbersit dalam air muka sang kepala desa, sambil tertawa kecil beliau pun menjelaskan kepada semua orang disana bahwa Tuan Dangu adalah benar kepala badan pertambangan di Danau Terra di kerajaan Hanguk di timur jauh sana. Beliau juga berkata kepada semua Europians yang ada diruangan itu bahwa memang Tuan Dangu sewaktu meninggalkan kristal tersebut berkata sesuatu yang seperti itu, hanya saja sang kepala desa mengira waktu itu bahwa itu hanya bercanda.
Sang Kepala desa juga menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Kedai Bernald, tentang penampakan seorang Windsong, juga terhadap keputusan kepala desa untuk tidak ikut campur akan hal-hal antara kedua kerajaan Hanguk dan Windsong mengenai benda yang baru-baru ini ditemukan oleh para penambang.
Makhluk yang menyerupai ksatria bangsa Hanguk itu pun mengerti dan berkata bahwa beberapa menit lagi, pihak dari kerajaan Hanguk akan tiba disini menggunakan kapal terbang. Dia juga berjanji bahwa tidak akan ada korban jiwa dari Uropia jika seandainya terjadi tumpah darah, tapi dia tidak berjanji akan melepas benda itu sebelum peneliti-peneliti dari Hanguk melihatnya langsung.
Dan dengan rasa penasaran yang tidak tertahankan lagi, Albert yang sedari tadi diam saja, bertanya kepada sang makhluk : "sebenarnya, kau ini apa ? dan kenapa tubuhmu bisa terbentuk oleh kristal itu dan beberapa papan kayu" sambil menunjuk lantai kayu yang hilang di ruangan
Makhluk itu lalu menoleh pelan ke arah Albert, lalu melirik ke arah lantai bangunan milik kepala desa yang tinggal geroak saja. Lalu makhluk itu berkata : "Aku adalah apa yang kalian sebut sebagai boneka, Bangsa kami, Hanguk punya kemampuan untuk mengendalikan unsur-unsur kecil dari suatu benda, merubahnya dan dengan energi yang cukup menciptakan makhluk hidup"
"Akan tetapi" makhluk itu melanjutkan "tidak ada energi yang tidak terbatas, oleh karena itu aku mengucapkan selamat tinggal wahai kepala desa, selamat tinggal juga wahai Europians, tubuh ini sebentar lagi akan hancur"
Usai berkata seperti itu makhluk itu memejamkan matanya, dan dalam keadaan masih berdiri, ia tidak kunjung membuka matanya. Albert yang sedari tadi masih penasaran berusaha menyentuh makhluk itu. Namun apa yang terjadi, Albert hanya menyentuh pasir yang membentuk tubuh makhluk itu, lalu seluruh tubuh makhluk tersebut rubuh kebawah, jatuh semuanya, menyisakan onggokan pasir.
"Hanya...Pasir...." Albert bergumam....
--
Tidak sampai setengah perjalanan pasir pada jam pasir, terdengar suara gemuruh beserta suara desingan hebat dari arah luar. Bernald, Albert dan semua Europians yang ada diruangan bergegas keluar dari bangunan kayu tersebut. Sudah mereka duga sebelumnya, : Kapal Udara Bangsa Hanguk telah tiba!!
Subscribe to:
Posts (Atom)